Sabtu, April 06, 2019

Menunjukkan empati kepada anak

Sejak disapih, tepatnya saat usianya menginjak 28 bulan, si kakak seringkali menderita sembelit. Selain dikarenakan susah diminta mengonsumsi sayur dan buah, kakak juga susah sekali minum air putih. Jika tidak diingatkan untuk minum air putih, seharian ia bisa tahan hanya minum segelas air putih saja.

Akhir-akhir ini, Dinda seringkali kambuh sembelitnya. Bahkan kemarin hampir seminggu ia belum pup juga. Mamanya pun mulai khawatir. Menerapakan salah satu poin komunikasi produktif, yaitu memberikan kalimat yang menunjukkan empati terjadi obrolan sebagai berikut.
👩 : Mbak Dinda, perurnya keras banget ya ini. Sakit ga sayang?
👧 : Klo ga dipegang engga sakit, tp kalo dipegang (re: agak ditekan) sakitt
👩 : oh gituu, pasti ga enak ya rasanya (menampilkan muka sedih)
👧 : iya
👩 : mba tadi makannya sedikit, karena perutnya ga enak ya?
👧 : (mengangguk)
👩 : Yaudah gpp, nanti mbak minum lagi yang banyak yaa. Kayanya tadi baru sedikit (sambil memberikan botol minum kepada dinda)
Nanti, kalo perutnya udah enakan mba mau makan sayur ya, mama potongin kecil-kecil deh biar mbak gampang kunyahnya.
👧 : Iya ma, nanti mbak minum yang banyak mirip dedek. Nanti malem peres jeruk juga ya Mama.
👩 : Oke.

Alhamdulillah, semoga cepet sembuh ya nak sembelitnya

#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melatih Kemandirian Anak - Day 4

Masih melanjutkan cerita melatih Toilet Training Medina. Kondisi saya sebagai working mom sedikit banyak berpengaruh pada proses Toilet T...